Mety Tri Nurnuzulawati, S.Psi., M.Psi, Psikolog
Mondy (2008) yang menyatakan bahwa stres adalah reaksi ganjil dari tubuh terhadap tekanan yang diberikan padanya. Stres menurut Davis (Badeni, 2013) adalah suatu kondisi ketegangan emosi pada diri seseorang yang berproses baik pada pikiran/mental maupun fisik. Apabila ini terjadi secara berlebihan, maka akan mengancam kemampuannya dalam menghadapi lingkungan. Ivancevich mendefinisikan (2006) stres adalah suatu respon, adaptif, dimoderisasi oleh perbedaan individu, yang merupakan konsekuensi dari setiap tindakan, situasi, atau peristiwa dan yang menempatkan tuntutan khusus terhadap seseorang.
Badeni mengatakan (2013) stres merupakan peluang bila stres itu memberikan kesempatan perolehan yang potensial. Stres paling tinggi adalah ketika individu merasa tidak pasti apakah ia akan mampu meraih hasil yang diidamkan atau tidak, dan stres paling rendah adalah apabila individu berpikir tercapai atau tidak hasil itu ia merasa tidak ada masalah. Robbin (2008) mendefinisikan stres kerja adalah suatu kondisi dinamik yang di dalamnya individu menghadapi peluang, kendala, atau tuntutan yang terkait dengan apa yang sangat diinginkannya dan hasilnya dipersepsikan sebagai yang tidak pasti tetapi penting.
B. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Stres Kerja
Badeni (2013) berpendapat bahwa faktor yang
mempengaruhi perbedaan tingkat stres antara orang yang satu dengan yang lain
ketika menghadapi stessor yang sama
adalah perbedaan individual dalam hal:
1. Persepsi
Persepsi merupakan suatu proses yang ditempuh individu untuk memberi
makna terhadap lingkungannya.
2. Pengalaman dalam menghadapi peristiwa yang
menyebabkan stres.
Seseorang yang telah berpengalaman dalam menghadapi sebuah peristiwa,
akan mengakibatkan ia memahami apa yang akan dilakukan untuk menghadapi situasi
yang mengakibatkan stres sehingga seseorang yang berpengalaman menghadapi
situasi yang penuh tekanan mungkin tidak mengalami stres yang berbeda dengan
orang yang belum mempunyai pengalaman.
3. Kemampuan memprediksi peristiwa yang menyebabkan
stres.
Situasi yang akan kita hadapi pada masa mendatang dapat menimbulkan
stres.
4. Jenis kepribadian
Orang yang memiliki kepribadian internal
locus of control diprediksi lebih rendah tingkat stresnya ketika menghadapi
situasi yang penuh stress dibanding orang yang memiliki kepribadian external locus of control.Didasarkan
pada pemikiran bahwa mereka dengan tempat pengendalian dari luar yakin bahwa
mereka tidak dapat mengendalikan situasi, sedangkan mereka dengan tempat
pengendalian dari luar yakin bahwa mereka tidak dapat mengendalikan stuasi.
Demikian juga seseorang yang memiliki kepribadian kategori A cenderung
mengalami stres yang lebih tinggi dibandingkan jenis kepribadian B ketika
menghadapi situasi yang penuh stres.
5. Dukungan sosial
Bukti menunjukkan bahwa dukungan sosial, yaitu hubungan kolegial atau
atasa, dapat mengurangi stres.
6. Permusuhan
Ada seseorang yang mudah terjadi mengalami kemarahan
dan permusuhan yang tinggi. Orang-orang jenis ini secara kronis mencurigai dan
tidak mempercayai orang lain. Kondisi kepribadian yang demikian ini sangat
mudah terkena stres.
Cooper (Wijono, 2010) faktor-faktor pekerjaan, ada 3 macam faktor pekerjaan yang menyebabkan stres:
- Faktor lingkungan (ketidakpastian ekonomi, politis, teknologi).
- Faktor organisasi (tuntutan tugas, peran, antarpribadi, struktur organisasi, kepemimpinan, dan tahap kehidupan organisasi itu).
- Faktor individual (masalah keluarga, masalah ekonomi, dan kepribadian).
Tosi (Wijono, 2010) faktor-faktor diluar pekerjaan yang menybabkan stres,
ada beberapa faktor yaitu:
1. Perubahan struktur kehidupan
Penyesuaian pribadi merupakan cara untuk melihat hubungan antara
pengembangan diri dan perbedaan padangan dari kehidupan pribadi yang dapat
digambarkan melalui perubahan kehidupan.
2. Dukungan sosial
Dukungan sosial merupakan salah satu cara komunikasi yang positif karena berisi tentang perasaan suka, keyakinan, penghargaan, penerimaan diri, dan kepercayaan diriseseorang terhadap kepentingan orang lain.
3.
Locus of control
Ketika dalam menghadapi stres berlocus
of control internal menghadapi stres potensial, mereka sebelumnya akan
mempelajari terlebih dahulu peristiwa-peristiwa yang dianggap mengancam
dirinya, kemudian ia bersikap tertentu secara rasional dalam menghadapi stres
kerja tersebut.
Individu locus of control ekternal menganggap bahwa segala peristiwa yang ada dalam lingkungan kerja di sekitarnya amat mempengaruhi dirinya. Dengan kata lain di kendalikan oleh faktor lingkungan.
C. Gejala-Gejala Stres Kerja
Anoraga (2009) mengatakan bahwa stres kerja meliputi gejala-gejala ringan sampai sedang meliputi:
- Gejala badan: sakit kepala (cekot-cekot, pusing seporoh, vertigo), sakit maag, mudah kaget (berdebar-debar), banyak keluar keringat dingin, gangguan pola tidur, lesu/letih, kaku leher belakang sampai punggung, dada rasa panas/nyeri, rasa tersumbat dikerongkongan, gangguan psikoseksual, nafsu makan menurun, mual, muntah, gejala kulit, bermacam-macam gangguan mensturasi, keputihan, kejang-kejang, pingsan dan sejumlah gejala lain.
- Gejala emosional: pelupa, sukar konsentrasi, sukar,
mengambil keputusan, cemas, was-was, kuatir, mimpi-mimpi buruk, murung, mudah
marah/jengkel. Mudah menangis, pikiran bunuh diri, gelisah, pandangan putus asa
dan sebagainya.
- Gejala sosial: makin banyak merokok/minum/makan,
sering mengontrol pintu jendela, menarik diri dari pergaulan sosial, mudah
bertengkar, membunuh, dan lainnya.
Gejala berat akibat “stres” sudah tentu kematian,
gila (psikosis), dan hilangnya kontak sama sekali dengan lingkungan sosial.
Robbin (2008) menyebutkan beberapa
indikator untuk mengukur stres yaitu:
- Gejala Fisiologis, yang terkait dengan aspek kesehatan dan medis yang dilihat dari perubahan metabolisme, meningkatkan detak jantung dan pernafasan, meningkatkan tekanan darah, menimbulkan sakit kepala, sakit perut dan memicu serangan jantung.
- Gejala psikologis meliputi perubahan sikap yang terjadi seperti ketegangan, kegelisahan, ketidaktenangan, ketidakpuasan, cepat marah kecemasan, kejenuhan, suka menunda-nunda pekerjaan.
- Gejala perilaku meliputi perubahan atau situasi ketika produktivitas seseorang menurun, kemangkiran, perputaran karyawan, gelisah absensi meningkat, tingkat keluar masuknya karyawan, perubahan kebiasaan makan, meningkatkan konsumsi rokok dan alkohol, bicara cepat, bicara yang gagap, dan ketidakteraturan waktu tidur, adanya gangguan tidur.
Yusuf (2004) berpendapat gejala-gejala stres sebagai berikut:
- Gejala Fisik, diantaranya: sakit kepala, sakit lambung (mag), hypertensi (darah tinggi), sakit jantung atau jantung berdebar-debar, insomnia (sulit tidur), mudah lelah, keluar keringat dingin, kurang selera makan, dan sering buang air kecil.
- Gejala psikis, diantaranya: gelisah atau cemas, kurang dapat berkonsentrasi belajar atau bekerja, sikap apatis (masa bodoh), sikap pesimis, hilang rasa humor, bungkam seribu bahasa, malas belajar atau bekerja, sering melamun, dan sering marah-marah atau bersikap agresif (baik secara verbal, seperti: kata-kata kasar, dan menghina; maupun non-verbal, seperti: menempeleng, menendang, membanting pintu, dan memecahkan barang-barang).
D. Aspek-Aspek Stres Kerja
Schultz (Almasitoh, 2011) aspek-aspek stres kerja meliputi,
a. Deviasi fisiologis, hal inidapat dilihat
pada orang yang terkenan stres antara lain adalah sakit kepala, pusing, pening,
tidak tidur teratur, susah tidur, bangun terlalu awal, sakit punggung, susah
buang air besar, gatal-gatal pada kulit, tegang, pencernaan terganggu, tekanan
darah naik, serangan jantung, keringat berlebihan, selera makan berubah, lelah
atau kehilangan daya energi, dan lain-lain.
b. Deviasi psikologis yang mencakup sedih,
depresi, mudah menangis, hati merana, mudah marah, dan panas, gelisah, cemas,
rasa harga diri menurun, merasa tidak aman, terlalu peka, mudah tersinggung,
marah-marah, mudah menyerang, bermusuhan dengan orang lain, tegang, bingung,
meredam perasaan, komunikasi tidak efektif, mengurung diri, mengasingkan diri,
kebosanan, ketidakpastian kerja, lelah mental, kehilangan spontanitas dan
kreativitas, dan kehilangan semangat hidup.
c. Deviasi perilaku yang mencakup kehilangan
kepercayaan kepada orang lain, mudah mempersalahkan orang lain, mudah
membatalkan janji atau tidak memenuhi janji, suka mencari kesalahan orang lain
atau menyerang orang lain, terlalu membentengi atau mempertahankan diri,
meningkatnya frekuensi absensi, meningkatkan penggunaan minuman keras dan
mabuk, sabotase, meningkatnya agresivitas dan kriminalitas.
Beberapa
aspek kerja yang lain dapat meningkatkan stres pekerja. Menurut Sarafiro (Smet, 1994) stres kerja dapat disebabkan karena:
1. Lingkungan fisik yang terlalu menekan,
seperti: kebisingan, tempratur atau panas yang terlalu tinggi, udara yang
lembab, penerangan di kantor yang kurang terang.
2.
Kurang kontrol yang dirasakan,
3.
Kurang hubungan interpesonal,
4. Kurangnya pengakuan terhadap kemajuan kerja: Para pekerja akan merasa stres bila mereka tidak mendapatkan promosi yang selayaknya mereka terima.
Almasitoh, U. H. (2011). Stres Kerja Ditinjau
Dari Konflik Peran Ganda Dan Dukungan Sosial Pada Perawat, Vol 8 No.1.
Retrieved From http://psikologi.uin-malang.ac.id/wp-content/uploads/2014/03/stres-kerja-ditinjau-dari-konflik-peran-ganda-dan-dukungan-sosial-pada-perawat.pdf
Badeni. (2013). Kepemimpinan
& Perilaku Organissasi. Bandung: Alfabeta.
Mondy, R. W. (2008). Manajemen Sumber Daya
Manusia. Alih Bahasa: Bayu Airlangga. Jakarta: Erlangga.
Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2008a). Perilaku
Organisasi Buku 1. Penerjemah: Diana Angelica. Jakarta: Salemba Empat.
Smet, B. (1994). Psikologi Kesehatan.
Jakarta: Pt. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Wijono, S. (2010). Psikologi
Industri Dan Organisasi. Jakarta : Kencana
Yusuf, S. L. (2004). Mental Hygiene
(Pengembangan Kesehatan Mental Dalam Kajian Psikologi Dan Agama). Bandung:
Pustaka Bani Quraisy.
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar