Mety Tri Nurnuzulawati, S.Psi., M.Psi, Psikolog
Skizofrenia merupakan suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan
menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, perilaku yang aneh dan
terganggu (Videbeck, 2008).
Suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab dan perjalanan penyakit yang luas, serta sejumlah akibat tergantung pada perimbangan pengaruh genetic, fisik dan sosial budaya. Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar atau tumpul. Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian (PPDGJ-III).
Jenis-jenis Skizofrenia
Menurut DSM IV (APA, 1994), terdapat beberapa jenis gangguan
skizofrenia, meliputi;
1. Tipe Paranoid
Pasien harus tampak preokupasi dengan satu atau lebih
waham, atau halusinasi auditoris yang sering. Syarat lainnya yang tidak
meninjol ialah disorganisasi pembicaraan, perilaku dan afek datar.
2. Tipe Tidak Terorganisir
Tipe ini dikenal sebagai skizofrenia hebefrenik dengan
simtom munculnya disorganisasi pembicaraan, perilaku dan afek datar dan tidak
tergolong tipe tipe katatonik.
3. Tipe Katatonik
Gambaran klinis yang muncul secara dominan adalah
srtidaknya 2 perilaku berikut: imobilitas motorik karena katalepsi,
aktivitas motor yang berlebihan, negativisme berlebihan, keanehan
atau ekolia (latah).
4. Tipe
Tidak Tergolongkan
Tipe dimana karakteristik simstom A muncul, namun kriteria
tidak masuk untuk gangguan paranoid, disorganisasi atau katatonik.
5. Tipe Residual
Memiliki karakteristik berikut; hilangnya delusi,
halusinasi, disorganisasi pembicaraan, perilaku katatonik yang nyata.
Kaplan (1994) menyatakan adanya temuan dari hasil penelitian di
masa lampau, jenis-jenis skizofrenia sebagai berikut:
1.
Buffee Delirante
Konsep diagnose yang berasal dari Perancis, menyebutkan
diagnose dapat ditegakkan jika durasi simtom skizofrenia muncul kurang dari 3
bulan.
2.
Skizofrenia Lanten
Diagnosa diberikan pada individu yang dikatakan memiliki
gangguan kepribadian schizoid atau skizotipal. Pasien mungkin menunjukkan
simtom psikotik. Pada masa lampau, diagnosa yang diberikan pada pasien dengan
simtom seperti ini adalah skizofrenia borderline.
3.
Oneiroid
Keadaan seperti mimpi, dimana pasien merasa sangat tenang
dan tidak sepenuhnya memiliki orientasi tentang waktu dan tempat. Pada pasien
yang sangat terikat dengan halusinasinya, sehingga sama sekali tidak terlibat
dunia nyata.
4.
Paraphrenia
Biasanya digunakan sebagai sinonim dari skizofrenia
paranoid. Istilah ini mengacu pada keadaan dimana terjadi kemunduran progresif
karena perjalanan penyakit, atau adanya waham yang sangat sistematis
5.
Pseudoneurotic
Pasien dengan gangguan ini memiliki simtom berupa free
floating anxiety, dan jarang dari mereka yang menjadi psikotik parah, atau
tidak tampak jelas sebagi pasien psikotik.
6.
Skizofrenia
simpel
Karakteristiknya antara lain hilangnya ambisi dan sorongan
dari dalam diri secara bertahap dan perlahan-lahan. Biasanya pasien tidak
tampak seperti pasien psikotik, dan tidak mengalami halusinasi aau waham yang
menetap. Simtom utama ialah menarik diri dari hubungan personal dan lingkungan
kerja.
PENANGANAN
1.
Perawatan Rumah Sakit
Perawatan di rumah sakit memiliki beberapa tujuan, yakni
menegakkan diagnostic, menstabilkan pengobatan, demi keamanan diri pasien dan
orang lain. Hal ini karena pasien yang bersangkutan tidak dapat memenuhi
kebutuhan dan perilaku penderita yang kacau.
2.
Pendekatan Biologis
Berupa psikofarma seperti obat-obatan secara umum ada
2 golongan obat antipsikotik yakni, DRA (Dopamine Receptor
Antagonist) dan SDA (Serotonin Dopamine Antagonist)
3.
Pendekatan Psikososial
Beberapa terapi diantaranya individual, keluarga, terapi
kelompok dan pelatihan keterampilan sosial. Terapi dilakukan sesuai dengan
kebutuhan pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Videbeck, L. S. (2008). Buku ajar keperawatan Jiwa: Jakarta: EGC
Yosep, I. (2011). Keperawatan jiwa. Bandung: Refika aditaman.
Fauziah, Fitri dan Julianti Widuri. 2005. Psikologi Abnormal
Klinis Dewasa. Jakarta: UI Press Fayed, Husain, 2009, Kiat Menghadapi Rasa
Was-was atau cemas, Solo: ABYAN.
Maslim,
Rusdi. (2013). Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III dan DSM-V.
Cetakan 2 – Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya.
Jakarta: PT Nuh Jaya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar