Gangguan Makan



 Gangguan makan (eating disorder) melibatkan perilaku makan yang terganggu dan cara mengendalikan berat badan yang maladaptive. Gangguan makan sering kali muncul bersamaan dengan gangguan psikologis lainnya seperti : depresi, gangguan kecemasan dan gangguan penyalahgunaan zat (Jenkins et al., 2011). Ketika orang-orang di berbagai Negara terobsesi dengan berat badan yang ideal dan kurus. Namun, ada juga dari mereka yang bias makan secara berlebihan dan berusaha mengeluarkannya kembali dengan cara memuntahkannya. Pola perilaku disfungsional ini adalah dua jenis utama gangguan makan, anoreksia nervosa (anorexia nervosa) dan bulimia nervosa. Sebagian besar kasus anoreksia nervosa dan bulimia nervosa terjadi pada wanita muda. Gangguan bisa muncul di tengah atau bahkan akhir masa dewasa, biasanya dimulai di sepanjang masa remaja atau dewasa awal.

Anoreksia Nervosa

Kata  anoreksia berasal dari Bahasa Yunani an-, yang berarti “tanpa” , dan orexis, yang berarti “keinginan untuk”. Anoreksia Nervosa biasanya berkembang diantara usia 12 sampai 18 tahun, meskipun juga dapat muncul sebelum atau sesudah rentang usia tersebut.  Sering kali, mereka membiarkan diri mereka kelaparan sampai titik di mana mereka menjadi sangat kurus.

Tanda yang menonjol dari anoreksia nervosa adalah penurunan berat badan yang drastic karena pembatasan asupan kalori yang signifikan atau membiarkan diri kelaparan. Ciri umum lainnya meliputi:

·         Ketakutan berlebihan akan bertambahnya berat badan atau menjadi gemuk meskipun sudah sangat kurus.

·         Menganggap tubuh atau bagian tubuh sendiri terasa gendut, meskipun orang lain menganggap orang tersebut kurus.

·         Gagal mengenali resiko yang ditimbulkan dari menjaga berat badan pada tingkat yang sangat rendah.

 Wanita penderita anoreksi untuk menyingkirkan tambahan berat sekecil apa pun sehingga mereka melakukan diet yang sangat ketat dan seringkali olahraga secara berlebihan.  Usaha-usaha untuk menurunkan berat badan ini terus berlanjut setelah tujuan penurunan berat badan awal tercapai, bahkan setelah keluarga ataupun temannya menunjukkan rasa khawatir akan kondisinya.

Jenis Anoreksia Nervosa

Terdapat dua subjenis umum dari gangguan ini, jenis makan secara berlebihan/mengeluarkan makanan (binge eating/purging) dan jenis membatasi (restricting). Individu dengan jenis makan yang berlebihan/mengelurkan makanan cenderung memiliki masalah yang berhubungan dengan kendali impuls;selain makan yang secara berlebih, ia juga terlibat dalam penyalahgunaan zat atau pencurian. Mereka cenderung mengalami masa control impuls yang ketat dan perilaku impuls secara bergantian. Mereka yang mengalami anoreksia jenis membatasi cenderung akan mengendalikan diet dan penampilan mereka secara ketat, bahkan obsesif.

 

 

KOMPLIKASI MEDIS DARI ANOREKSIA NERVOSA

Anoreksia nervosa dapat menyebabkan komplikasi medis yang serius; di mana dalam kasus ekstreem, hal ini bisa berakibar fatal. Seseorang bisa saja kehilangan 35% dari berat badannya dan anemia bisa saja terjadi. Wanita ynag mengalami anoreksia nervosa juga cenderung memiliki masalah dermatologis seperti kulit kering dan pecah-pecah, rambut dan dulu tipis, bahkan kulit yang cenderung menguning yang bisa bertahan selama beberapa tahun setelah berat badan kembali normal. Penurunan konsumsi makanan bisa menyebabkan masalah sakit perut dan sembelit atau paralisis usus. Menstruasi yang tidak teratur adalah kasus umum yang ditemui pada wanita anoreksia, begitu pula dengan amenorrhea (tidak terjadi atau keterlambatan menstruasi). Wanita muda dengan anoreksia nervosa delapan kali lebih mungkin untuk bunuh diri daripada wanita muda pada populasi umum (Yager,2008).

 Bumilia Nervosa

Kata bulimia nervosa berasal dari bahasa Yunani bous, yang berarti “sapi” dan limos, yang berarti “lapar”. Bulimia nervosa adalah sebuah gangguan makanan yang ditandai dengan berulangnya episode mengonsumsi makanan dalam jumlah yang banyak dan diikuti dengan penggunaan cara-cara yang tidak pantas untuk mengimbangi perilaku tersebut serta mencegah kenaikan berat badan.

Cirri bulimia nervosa adalah berulangnya episode makan secara berlebihan yang diikuti dengan perilaku pengimbangnya seperti membuat diri sendiri muntah, penyalahgunaan pencahar, diuretic, enema atau puasa/olahraga secara berlebihan. Cirri-ciri umum dari bulimia nervosa meliputi:

·         Perasaan tidak mampu mengendalikan perilaku makan selama episode makan secara berlebihan.

·         Ketakutan berlebihan akan peningkatan berat badan.

·         Penekanan berlebih pada bentuk tubuh dan berat badan terkat citra diri.

Seseorang dengan bulimia bisa menggunakan satu atau lebih strategi untuk mengeluarkan makanan di perutnya, seperti muntah dan obat pencahar. Jika orang dengan anoreksia nervosa sangat kurus, mereka yang menderita bulimia biasanya memiliki berat badan normal. Namun, mereka memiliki kekhawatiran berlebih tentang bentuk dan berat badannya.

Orang yang mengalami bulimia nervosa biasanya menyumbat kerongkongannya sendiri untuk memuntahkan makanannya. Bulimia nervosa biasanya mempengaruhi wanita pada masa remaja akhir atau dewasa awal, di saat kekhawatiran tentang diet dan ketidakpuasan akan bentuk atau berat badan mencapai puncaknya.

KOMPLIKASI MEDIS DARI BULIMIA NERVOSA

Banyak dari komplikasi ini yang muncul akibat muntah secara terus-menerus: iritasi kulit di sekitar mulut karena seringnya kontak dengan asam lambung, penyumbatan saluran air liur, rusaknya enamel gigi dan gigi berlubang. Siklus makan secara berlebihan dan muntah bisa menyebabkan sakit perut, hernia hiatus, dan keluhan perut lainnya serta terganggunya fungsi menstruasi. Penggunaan pencahar secara berlebihan bisa menyebabkan diare berdarah dan ketergantungan pencahar sehingga gerakan usus seseorang tidak akan normal tanpa pencahar. Sama hal nya dengan pasien anoreksia, mereka yang mengidap bulimia memiliki tingkat kematian yang tinggi jika dibandingkan dengan populasi umum; dengan angka kematian medis (Crow et al . 2009b).

Penyebab Anoreksia Nervosa dan Bulimia Nervosa

Seperti gangguan psikologis yang lainnya, anoreksia dan bulimia memiliki bebrapa factor, yaitu:

1.      Factor Sosial Budaya

Dorongan untuk kurus dan ketidakpuasan akan benuk tubuh itu tampak menonjol pada gangguan makan (Brannan & Petrie, 2011; Chernyak & Lowe, 2010). Membandingkan tubuh diri sendiri dengan orang lain dalam hal penampilan bisa menimbulkan ketidakpuasan akan tubuh sendiri (Myers & Crowther, 2009). Wanita muda mulai mengukur diri mereka dengan standar tubuh kurus yang tidak realistis diwakili dengan  gambaran citra yang ditampilkan media akan model dan artis yang sangat kurus; pengukuran seperti ini memicu ketidakpuasan akan tubuh sendiri (Bell & Dittmar, 2011; Dalley, Buunk, & Umit,2009;Rodgers, Sales,& Chabrol, 2010). Ketidakpuasan akan tubuh itu nantinya dapat menyebabkan diet yang berlebihan dan perilaku makan yang terganggu.

2.      Factor Psikososial

Wanita dengan gangguan makan biasanya mengadopsi aturan dan praktik diet yang sangat kaku; apa yang mereka makan, berapa banyak yang mereka makan, dan seberapa sering mereka bisa makan. Penting untuk menyadari bahwa gangguan makan melibatkan masalah emosional yang lebih dalam serta melibatkan perasaan ketidakamanan diri (insecurity), ketidakpuasan akan tubuh, dan penggunaan makanan untuk kepuasan emosional.

3.      Factor Emosi

Orang  dengan anoreksia mungkin akan membatasi asupan makanan mereka sebagai usaha yang keliru untuk melegakan emosi mengganggu dengan mencari penguasaan atau pengendalian akan tubuh mereka (Merwin, 2011). Sedangkan pada orang dengan bulimia sering kali memiliki lebih banyak masalah emosi  dan harga diri yang lebih rendah dari pada pelaku diet lainnya (Jacobi et al., 2004)

4.      Factor Kognitif

Orang yang berjuang melawan bulimia cenderung berpikir secara dikotomi atau “hitam-putih”. Oleh karena itu mereka berharap untuk benar-benar mengikuti aturan diet yang kaku dan menganggap diri mereka benar-benar gagal jika mereka sedikit saja menyimpang dari aturan tersebut.

5.      Factor keluarga

Gangguan makan biasanya muncul melalui latar belakang masalah dan konflik keluarga. Mereka berpendapat bahwa sejumlah remaja menolak makan untuk menghukum orang tua nya karena rasa kesepian dan asing yang dialaminya di rumah. Wanita muda dengan gangguank makan sering bersala dari latar belakang keluarga yang disfungsional yang ditandai dengan tingginya tingkat konflik keluarga dan orang tua yang cenderung terlalu protektif di satu sisi, tetapi kurang merawat dan mendukung di sisi lain (seperti dalam Giordano, 2005; McGrane & Carr, 2002).

6.      Factor Biologis

Genetika tampaknya memainkan peran penting dalam perkembangan gangguan makan (Baker et al., 2009; Kaye, 2009). Serotonin memainkan peranan penting dalam mengatur mod dan selera makan, khususnya keinginan untuk mengonsumsi karbohidrat (Hildebrant et al., 2010). Tidak normalnya tingkat serotonin atau bagaimana serotonin digunakan di otak dapat menimbulkan episode makan secara berlebihan. Wanita dengan gangguan makan mengalami depresi atau memiliki riwayat depresi dan tidak seimbangnya serotonin terimplikasikan pada gangguan depresi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar