Mety Tri Nurnuzulawati, S.Psi., M.Psi, Psikolog
YMc, Menurut Kaplan, Sadock, dan Grebb (1994), kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang mengancam dan merupakan hal yang normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau yang belum pernah dilakukan, serta menemukan identitas diri dan arti hidup. Kecemasan memiliki karakteristik berupa munculnya perasaan takut dan kehati-hatian atau kewaspadaan yang tidak jelas dan tidak menyenangkan (Davison & Neale, 2001). Kecemasan seringkali disertai dengan gejala fisik seperti sakit kepala, sakit perut, jantung berdebar cepat, dada terasa sesak, tidak tenang, tidak dapat duduk diam dll. Gejala-gejala yang muncul tentunya akan berbeda setiap orang yang mengalami kecemasan. Kaplan, Sadock, & Grebb (1994) menyebutkan bahwa "takut" dan "cemas" merupakan dua emosi yang berfungsi sebagai tanda akan adanya suatu bahaya. Rasa takut muncul jika terdapat ancaman yang jelas atau nyata, berasal dari lingkungan dan tidak menimbulkan konflik bagi individu. Sedangkan kecemasan muncul jika bahaya berasal dari dalam diri, tidak jelas atau menyebabkan konflik bagi individu.
Tipe-tipe Gangguan Kecemasan
Pada bagian ini kita akan membahas tentang beberapa gangguan cemas, menurut DSM-IV mengakui tipe spesifik dari gangguan-gangguan kecemasan adalah sebagai berikut :
1. Gangguan Fobia
Fobia berasal dari kata Yunani "phobos", yang berarti objek atau situasi yang ditakuti. Definisi fobia (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1994) adalah ketakutan irasional yang menimbulkan upaya menghindar (secara sadar) dari obyek, aktivitas, atau situasi yang ditakuti. Fobia dapat mengganggu bila mereka mempengaruhi tugas sehari-hari seperti naik bus, pesawat terbang atau kereta api; menyetir, berbelanja, atau pergi keluar rumah. Menurut DSM-IV fobia dapat digolongkan dalam 2 jenis, yaitu fobia spesifik dan fobia sosial.
a. Fobia spesifik
Fobia yang spesifik berarti ketakutan yang tidak diinginkan karena kehadiran atau antisipasi terhadap objek atau situasi yang spesifik (Davison & Neale, 2001). Jenis Fobia menurut DSM-IV dapat digolongkan dalam 5 hal, yaitu:
a) Tipe fobia terhadap binatang (misal: fobia tikus, anjing atau binatang berbulu lebat)
b) Tipe lingkungan alam (misal: ketinggian, kilat atau air)
c) Tipe fobia terhadap darah, suntikan, atau luka
d) Tipe situasional (contohnya berada dalam pesawat terbang, lift, atau tempat tertutup)
e) Tipe lainnya (misal ketakutan terhadap kostum karakter tertentu pada anak-anak)
b. Fobia Sosial
Merupakan ketakutan yang tidak rasional dan menetap, biasanya berhubungan dengan kehadiran orang lain; individu menghindari situasi dimana ia mungkin dievaluasi atau dikritik, yang membuatnya merasa terhina atau dipermalukan dan menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau menampilkan perilaku lain yang memalukan (Kaplan, Sadock & Grebb, 1994; Davison & Neale, 2001).
2. Gangguan Panik
Kaplan, Sadock & Grebb (1994) mengemukakan bahwa gangguan panik memiliki karakteristik terjadinya serangan panik (panic attack) yang spontan dan tidak terduga. Sedangkan pengertian serangan panik sendiri adalah kecemasan atau ketakutan yang sangat intens dalam waktu yang relatif singkat dan disertai dengan simtom somatik seperti berkeringat dingin. Davison & Neale (2001) menjelaskan beberapa simtom yang dapat muncul pada gangguan panik antara lain sulit bermapas, jantung berdebar keras, mual, rasa sakit di dada, pening, berkeringat dingin, gemetar, kekhawatiran yang intens, terror dsb. Hal lain yang penting dalam diagnosa gangguan panik adalah bahwa individu merasa setiap serangan panik merupakan pertanda datangnya kematian atau kecacatan (Barlow & Durand, 1995).
3. Gangguan Cemas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder)
Gangguan cemas menyeluruh menurut DSM IV (dalam Kaplan, Sadock, & Grebb, 1994) adalah kekhawatiran yang berlebihan dan bersifat pervasif, disertai dengan berbagai sintom somatik, yang menyebabkan gangguan signifikan dalam kehidupan sosial atau pekerjaan pada penderita, atau menimbulkan stres yang nyata padanya. Gangguan ini biasanya timbul pada pertengahan usia remaja, meskipun dapat pula muncul pada usia yang lebih tua atau bahkan lebih muda (Barlow, et.al dalam Davison & Neale, 2001).
4. Gangguan Obsesif-Kompulsif
Gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan kecemasan dimana pikiran seseorang dipenuhi oleh gagasan-gagasan yang menetap dan tidak terkontrol dan ia dipaksa untuk melakukan tindakan tertentu berulang-ulang sehingga menimbulkan stres dan mengganggu fungsinya dalam kehidupan sehari-hari (Davison & Neale, 2001).Umumnya gangguan terjadi pada masa dewasa muda, dan seringkali mengikuti serangkaian peristiwa yang menimbulkan stres besar (Kringlen dalam Davison & Neale, 2001). Obsesi meningkatkan kecemasan individu, sedangkan menampilkan atau melakukan kompulsi dapat menguranginya (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1994).
Beberapa kompulsi yang umum menurut Davison & Neale (2001) antara lain:
- Mengikuti kebersihan dan keteraturan, terkadang dengan ritual tertentu yang dapat memakan waktu berjam-jam.
- Menghindari objek tertentu
- Menampilkan kegiatan-kegiatan praktis yang repetitif, aneh, dan bersifat pencegahan, misalnya menghitung.
- Memeriksa,berkali-kali memeriksa untuk memastikan bahwa perilaku yang sudah ditampilkan benar-benar telah dikerjakan.
- Menampilkan perilaku tertentu seperti makan dengan sangat perlahan-lahan.
5. Gangguan Stres Pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder)
Setiap individu yang mengalami peristiwa traumatik akan mengalami stres dan hal ini merupakan reaksi yang wajar. PTSD didefinisikan sebagai sekelompok simtom yang muncul setelah individu mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatik yang melibatkan kematian atau ancaman kematian, atau luka yang sangat parah atau ancaman terhadap integritas diri maupun orang lain. Peristiwa tersebut haruslah menimbulkan ketakutan atau kengerian yang intens, atau menimbulkan perasaan tidak berdaya (Davison & Neale, 2001).
Menurut DSM IV (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1994) simtom utama PTSD dapat dikelompokkan dalam 3 kelompok, yaitu:
a. Mengalami kembali peristiwa traumatik secara persisten melalui beberapa cara, antara lain mengingat kembali peristiwa secara berulang dan mengganggu , mimpi buruk yang berulang-ulang, berperilaku atau merasa bahwa peristiwa tersebut sedang terjadi dan bukan sesuatu yang telah berlalu.
b. Upaya menghindari yang menetap terhadap hal-hal yang meningkatkan pada peristiwa traumatik dan penumpulan respons terhadap stimulus tersebut.
c. Meningkatnya aktivitas secara persisten, antara lain tidak dapat tidur atau sulit tidur nyenyak, mudah tersinggung atau meledak (marah), sulit konsentrasi, berjaga-jaga (hypervigilance), respons terkejut yang berlebihan.
Untuk dapat menegakkan diagnosis PTSD, simtom-simtom tersebut harus muncul setidaknya selama 1 bulan setelah terjadinya peristiwa traumatik. Sedangkan apabila munculnya kurang dari 1 bulan, gangguan didiagnosa sebagai gangguan stres akut (Acute Stress Disorder).
Penanganan Gangguan Kecemasan
1. Pendekatan Psikodinamika
Dari perspektif dinamika, kecemasan merefleksikan energi yang dilekatkan kepada konflik-konflik tak sadar dan usaha ego untuk membiarkannya tetap terepresi. Psikoanalisis tradisional menyadarkan bahwa kecemasan klien merupakan simbolisasi dari konflik dalam (inner conflict) diri mereka; dengn adanya simbolisasi ini, ego dapat dibebaskan dari menghabiskan energi untuk melakukan represi. Terapis psikodinamika yang lebih modern menyadarkan klien mengenaik sumber-sumber konflik yang berasal dari dalam.
2. Pendekatan-pendekatan Humanistik
Perspektif humanistik percaya bahwa banyak dari kecemasan kita yang berasal dari represi sosial diri kita yang sesungguhnya. Kecemasan terjadi bila ketidakselarasan antara inner self seseorang yang sesungguhnya dan kedok sosialnya mendekat ke taraf kesadaran. Terapis humanistik bertujuan untuk membantu orang untuk memahami dan mengekspresikan bakat-bakat serta perasaan-perasaan mereka yang sesungguhnya.
3. Pendekatan-pendekatan Biologis
Obat antidepresi mempunyai efek antikecemasan dan antipanik selain juga mempunyai efek antidepresi (Glas, 2000;Roy-Byrne & Cowley, 1998; USDHHS,1999a). Obat antidepresi kemungkinan membantu melawan kecemasan dengan menormalkan aktivitas neutransmiter di otak. Masalah potensial dengan terapi obat adalah bahwa pasien kemungkinan menganggap perbaikan klinis yang terjadi disebabkan oleh obat dan bukan karena sumber daya mereka sendiri. Obat-obat ini juga tidak membawa kesembuhan total, dapat kambuh sering terjadi setelah pasien menghentikan pengobatan (Spiegel & Bruce, 1997).
DAFTAR PUSTAKA
Nevid, Jeffrey S dkk. 2003. Psikologi Abnormal Edisi Kelima Jilid 1. Erlangga:
Jakarta.
Nevid, S.F, Rathus, A.S., Greene, B. 2003. Psikologi Abnormal Edisi Kelima,
Erlangga: Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar